Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 16 September 2016

Hay Blog!

Hay,blog.. Maafkan ya untuk akhir-akhir ini belum nulis kelanjutan kisah Rain..Karena rencananya akan dibentuk dalam bentuk novel..

Sudah punya ending kisahnya..

Semoga segera selesai :)

posted from Bloggeroid

Senin, 18 Juli 2016

Terasing Dalam Jalan Hijrah Abu-Abu (3)

Pagi ini Rain bersemangat sekali. Rain bangun lebih pagi dari biasanya. Ehm,biasanya juga Rain bangun pagi sebelum berangkat bekerja. Tapi ini lain, di hari Minggu biasanya Rain tidur lagi setelah shalat subuh. Dan kali ini Rain bertekad tidak tidur setelah sholat subuh.

"Tik tok tik tok.."Suara detak jarum jam terdengar jelas diantara kesunyian. Sekarang masih pukul tiga pagi. Setelah sholat tahajud, Rain segera beranjak menuju meja belajarnya. Rupanya Rain sedang khusyuk menulis. Sambil tersenyum-senyum sendiri, Rain memainkan jemarinya..

*
Awan

Awan tak selalu mendung...
Kadang dia cerah..
Kadang dia juga terik..

Hari ini hatiku cerah..
Seperti malam ini yang berhias bintang..

*

Rupanya Rain sedang belajar membuat puisi. Hingga tak terasa sudah adzan sudah hampir berkumandang. "Tok,tok,tok.. Rain.. Bangun.. Sudah hampir subuh nih..!" Suara Ibu Rain terdengar memanggil. "Iya bunda, Rain sudah bangun daritadi,"Rain menyahut dengan bangganya. Ibunya pasti heran dengannya, karena biasanya Rain susah untuk bangun pagi.

Rupanya Rain sedang terkena VMJ (Virus Merah Jambu) yang sedang trend di kalangan remaja. Rain sedang jatuh cinta! Rain jatuh cinta dengan seseorang. Rain yang akhir-akhir ini pemurung, menjadi lebih ceria dan bersemangat.

"Selama ini aku tak begitu tertarik menulis. Tapi hari ini aku bisa menulis beberapa puisi hanya karena aku mencintai seorang penulis. Itu konyol Rain, hahaha.." Rain berbicara pada dirinya sendiri didepan cermin.

Suara adzan subuh berkumandang. Rain segera meletakkan cermin yang sedari tadi dipegangnya, lalu dia beranjak dari kursi karena akan segera menuju kamar mandi. Rain hendak memperbarui wudhunya.

Sebelum beranjak, Rain kembali menulis.

*
Jatuh itu sakit..
Tapi kali ini aku menikmatinya..
Ya, aku jatuh cinta
*

Setelah menuliskan itu, Rain segera meninggalkan meja belajarnya sambil bersenandung lirih dengan nada riang.

Entah, seperti apa sosok orang yang dicintai oleh Rain hingga membuatnya seperti itu.




#bersambung

posted from Bloggeroid

Minggu, 17 Juli 2016

Aku Ingin Hidup Tepat Waktu



Ada pendewasaan dibalik kedisiplinan dan aku ingin memilikinya seutuhnya..

posted from Bloggeroid

Sabtu, 11 Juni 2016

Terasing Dalam Jalan Hijrah Abu-abu (2)

sumber foto :Google



Shaif

Udara dingin memeluk kulitnya yang berbalut kaos oblong. Kepalanya seperti berputar. Semalaman suntuk dia pergi di acara pesta bersama  teman-temannya. Hari ini sudah pagi buta, dia berjuang sekuat tenaga mengendarai motornya dalam keadaan setengah mabuk. Dia ingin cepat sampai di rumahnya, bukan rindu keluarganya, tapi dia ingin segera tidur. Ya, hanya ingin melepas lelah dia ingin segera tiba di rumahnya. Mungkin setelah bangun, dia ingin cepat-cepat beranjak lagi dari rumahnya yang seperti neraka itu.

"Sreet...!" Akhirnya dia tiba dirumahnya.  Dirabanya gembok pagar, terkunci! Tapi dia sudah cukup lihai, dia sudah menduplikat kunci-kunci dalam rumahnya. "Kriek.." Berhasil juga dia membuka pintu pagar sampai pintu dalam rumah. Di masukkan motor kesayangannya dalam rumah dengan hati-hati, supaya tak terdengar suaranya oleh orang rumah yang sedang tidur.

Tanpa sibuk melakukan apa-apa lagi segera direbahkan tubuhnya di atas kasur bersprei biru. "Buukk!" Suara tubuh yang dijatuhkan di kasur empuknya. Mata itu tanpa basa basi langsung terpejam, lelap. Tiba-tiba terdengar suara derap kaki menuju kamarnya. "Dasar anak nakal! Jam segini baru pulang! Darimana saja kamu!" Suara seorang lelaki tua yang tak lain adalah ayahnya, sedang memarahinya. Namun, seperti biasanya, dia acuh dan tak mendengarkan, asyik tenggelam dalam dunia mimpi di tidurnya.

"Shaif!"Ayahnya memanggil. Shaif tak merespon. Ayahnya hanya bisa menggeleng kepala dan mengelus dada, "Astaghfirullah.." Gumamnya. Raut wajah lelaki itu terlihat begitu sedih memandangi anaknya. Di elusnya rambut anak lelaki pertamanya itu sambil menghela nafas.

Shaif, seorang remaja laki-laki yang tengah limbung dalam pencarian jati dirinya. Seakan sudah tak percaya akan adanya Tuhan lagi. Ya, mungkin percaya, tetapi hanya sebatas percaya. Namun untuk benar-benar mengerti apa artinya percaya pada Tuhan, mungkin dia masih jauh. Kehidupannya yang jauh dari ketaatan. Meski, sebenarnya dia terlahir dari keluarga yang taat agama. Dia masih sakit hati akan doanya yang tak dikabulkan itu. Sakit keras ibunya yang tak kunjung sembuh dan berakhir pada kematian. Apalagi dalam waktu dekat setelah itu, kekasihnya memilih untuk menikah dengan pria lain. Seakan doa-doanya, kerja kerasnya, tangisnya, itu tidak didengar oleh Tuhan.

Jangankan bersahabat, bahkan Shaif pun membenci wanita berjilbab. Karena Winta, mantan kekasihnya itu berjilbab dan baginya dia sosok yang sholehah. Tapi mengapa masih tega berselingkuh dengan pria yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Shaif pernah berpikir untuk menjadi seorang atheis. Tapi mungkin dalam hatinya masih ada setitik kecil cahaya akan keimanan. Sehingga masih saja dia genggam status agamanya.

Dalam heningnya malam, lelaki tua itu khusyuk bersujud hingga sajadahnya basah akan air mata. Dirinya malu, sebagai seorang yang biasa berdakwah, menyeru kebaikan pada orang lain. Namun, anaknya sendiri tak taat pada agama. Entah, ini ujian atau buah dari kesalahannya, terkadang ujian dan karma memang berbeda tipis. Dicobanya mereka-reka setiap detik dalam hidup di masa lalunya yang mungkin penyebab kelakuan anaknya. Mungkin karena ini, mungkin karena itu.. Dicobanya mengira-ngira...

Allah terkadang memberi cobaan seseorang yang sedang nyaman mendekat padaNya, yang menyeru kebaikan, di uji dengan buruknya kelakuan anaknya atau salah satu anggota keluarganya. Seperti nabi Luth yang diuji dengan istrinya yang suka bergaul dengan orang-orang gay, nabi Nuh yang di uji dengan Kan'an, anaknya yang sombong di saat banjir melanda." Tapi, mereka kan nabi.. Sedangkan aku..? " Lelaki itu terisak menutupi wajah keriputnya.

Entahlah, kadang antara ujian atau karma, sulit untuk dibedakan..

#Terasing Dalam Jalan Hijrah Abu-abu  ep. 1

Kamis, 02 Juni 2016

Terasing dalam Jalan Hijrah Abu-Abu

sumber foto :Google.com


RAIN

Kau tahu rasanya jadi asing? Ya, disaat kau di antara sekumpulan orang namun kau tetap merasa sendiri. Kau bagai angin yang tak terlihat. Hey,bahkan lebih buruk dari itu! Kau seperti ada, namun ruhmu tak disana. Dalam kondisi seperti itu, bahkan menjadi angin terasa lebih baik sepertinya.

Rain, begitulah dia dipanggil. Gadis yang entah mengapa mencoba mengambil jalan hijrah yang dipikirannya membawa kedamaian sesungguhnya yang selama ini di carinya. Dia memang bukan seorang yang baru masuk dalam islam, bahkan dia sudah berjilbab. Hanya kini dia mencoba memanjangkan jilbabnya menutupi dada. Celana jeans ketatnya pun dia ganti dengan rok panjang yang anggun.

Namun hijrahnya tidaklah mulus. Pertama berhijrah dia memang merasakan dunia baru, damai rasanya. Dan hanya selang beberapa bulan dia mulai merasakan dilema yang mengusik hidupnya. Bukan apa-apa, mungkin karena selama ini jalan hijrahnya dia temukan sendiri. Karena kesenangannya membaca buku dan browsing internet. Dia telah menemukan hidayah di situ. Itu bisa jadi dikatakan cahaya, bisa juga dikatakan awal kegalauan. Rasanya, jika orang hanya mengenalnya lewat dunia maya, Rain terlihat seperti seorang akhwat muslimah yang bersih akhlaknya, dalam ilmu agamanya. Padahal, Rain hanyalah seorang yang sedang mencari jati dirinya dalam mendalami ilmu agama.

Rain mulai mencari teman yang sevisi. Nampaknya, hal itu akan membuatnya semakin kuat. Tapi kenyataan memang kadang tak seindah bayangan. Setelah menemukan teman sevisi, yang sama-sama mendalami ilmu islam, Rain merasa semakin kaku dan resah. Bagaimana tidak? Rain merasa hidupnya ada di tengah-tengah, tak berkawan. Jika di dalam pertemanan 'remaja' , dia merasa tersudut.
Dianggap ekstrimis, tak menghargai culture, alay. Hal paling berani yang dia lakukan adalah sholat, dikala sebagian kawan lainnya tak sholat. Selebihnya? Ajakan konser hura-hura, karaoke berjam-jam, nonton film bioskop ala barat, dan kesenangan lainnya ala remaja tetap dia ikuti karena satu alasan: Takut dianggap sok. Dan di antara perkumpulan teman barunya itu, dia merasa tersudut juga. Dia merasa kotor. "Ha? pernah pacaran?" "Ha? pernah karaoke?" "Ha?" "Ha?" dan sederet 'Ha' lain yang dilontarkan teman-teman akhwat yang memang kebanyakan pernah mondok itu. Rain merasa malu, merasa terkikis hatinya.. "Kenapa aku dulu pacaran,, Kenapa aku dulu mau hura-hura," Rain terisak dalam penyesalan yang bagi teman 'remaja' nya itu adalah hal biasa.

Lebih-lebih diusianya yang sudah pantas menikah itu, Rain merasa semakin sakit. Soal jodoh! Hanya karena jodoh! Bukan karena tak ada yang tertarik padanya. Namun ketakutan yang dibuat sendiri oleh Rain. Rain merasa takut salah memilih. Jika dia memilih yang 'biasa-biasa' saja. Rain takut akan kemungkinan besar kembali pada kehidupan yang sekedar hidup, kehidupan yang tak menuju ke suatu fokus mendalami islam. Namun jika dia mencari ikhwan. Dia merasa tak pantas, karena seorang ikhwan hanya pantas pada akhwat. Apakah ada ikhwan yang mau dengan dirinya yang masih belum matang dalam beragama itu? Bukankah biasanya ikhwan pasti mencari akhwat yang mumpuni akhlak dan dalam ilmu agamanya?

Rain segera tersadar, menepis lamunan-lamunan negatifnya itu. Dia segera sadar bahwa jalan menuju-Nya itu berliku, namun sejatinya indah. Hidup yang singkat tak boleh disia-siakannya. Dalam sepertiga malamnya, Rain khusyuk mengadu pada sang pencipta. Malu akan kegalauannya.

Biarlah jalan hijrahnya masih terlihat abu-abu. Biarkanlah ritme kefuturannya masih naik turun. Apapun pandangan yang lain tentang dia. Rain memang masih pesimis bahwa diakhir hidupnya dia akan khusnul khatimah. Yang dia harap hanya sederhana. dia berharap di saat terakhir hidupnya, setidaknya dia dalam keadaan tengah berjuang memperbaiki dirinya menggapai ridhoNya.


#Terasing dalam Jalan Hijrah Abu-abu ep.2

Minggu, 22 Mei 2016

Jodoh Dunia Akhirat (lirik lagu - Kang Abay Motivasinger)



Kumerayu.. Pada Allah yang tahu isi hatiku
Dimalam hening aku selalu mengadu
Tunjukan Padaku…

Kuaktifkan... radarku mencari sosok yang dinanti
Kuikhlaskan Pengharapanku dihati
Siapa Dirimu…

Dalam kesabaran kumelangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan aku jaga hingga
Allah persatukan kita….

Reff :
Jodoh Dunia Akhirat
Namamu Rahasia
Tapi kau ada dimasa depanku

Kusebut dalam doa
Kuikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke Surga, Abadi…


“Bukan Cinta yang memilihmu, Tapi Allah yang memilihmu…Untuk kucintai…”

Rabu, 18 Mei 2016

Waktu-waktu



Di suatu pagi buta yang hening
Ku buka catatan lamaku
Tentang diri di masa lalu
Dari tahun berganti tahun
Malu rasanya ternyata diri ini banyak bermimpi
Mimpi yang seakan tak ada ujungnya
Seperti si pembual di terik mentari

Namun tak apa..
Ku bersyukur diri ini semakin mendewasa
Sesekali tersenyum membaca kisah lamaku..
Beranjak remaja dengan penuh keceriaan dan semangat
Kadang kala diri pun tertunduk,
Jika mengingat banyak pula khilaf didalamnya..

Teruslah berjalan ke depan.. 
Belakang bukan tempatmu hidup
Belakang tempatmu bermuhasabah

Akhir yang baik..
Seperti yang dimimpikan semua orang....