Minggu, 20 November 2016

Kenapa Sering Terhenti Menulis?



Pertemuan FAM (Forum Aktif Menulis) kali ini di alun-alun Sidoarjo. Jadi teringat pertama kali bertemu mbak Reffi Dhinnar di alun-alun Sidoarjo, waktu itu juga ada pak ketua Yudha Prima dan kak Ken Hanggara.

Kali ini yang dibahas adalah tentang bagaimana kita mengatasi menulis yang sering tersendat.

Lalu kak Ken dan mbak Reffi punya tips, yaitu menulislah sesuai dengan minat kita. Seperti mbak Reffi yang tertarik dengan psikologi dan kak Ken yang tertarik dengan horor.

Jika kita menulis hal yang kita sangat tertarik, maka kita akan menulis dengan suka cita dan terus menulis.

Lalu ketika giliran saya yang ditanya tentang bagaimana perkembangan menulis saya. Ya, saya hanya menjawab bahwa saya minat ke menulis sebagai sarana dakwah. Hanya saja, karena soal agama itu tidak boleh ditulis dengan sembarangan, maka saya memilih untuk memperbanyak input dan banyak belajar saja dahulu.

Lalu pak Ketua Yudha Prima menyarankan untuk membuat buku kumpulan motivasi,mengingat saya yang sering update status panjang di facebook. Namun menurut saya, menulis di facebook dengan menulis bertujuan untuk membukukan adalah dua hal berbeda. Jika menulis di facebook, kita tanpa pikir panjang atau bisa juga hanya mengutarakan 'sampah' dipikiran kita. Jika itu dijadikan sebuah buku pun masih harus berpikir lagi, sebagai apakah kita ini? Mengingat ucapan itu biasanya akan didengar jika kita sudah menjadi 'sesuatu'. Sedangkan saya disini hanya seorang buruh pabrik.

Ya, begitulah intinya. Intinya tentukan apa hal yang membuat kita sangat tertarik, lalu barulah kita memikirkan konsep dan mulai menulis. Jadikan menulis itu hal yang menyenangkan dan untuk berbagi kebaikan.

Nah, di akhir pembahasan, FAM Surabaya berencana menargetkan launching satu buku satu orang. Jadi untuk tahun depan, perorang harus menghasilkan karya satu buku.

Mungkin saya akan menelurkan kisah TEDJHA (Terasing Dalam Jalan Hijrah Abu-Abu). Semoga saja bisa bermanfaat. Allahumma amiin..

Rabu, 05 Oktober 2016

Seminar Keren Buat Kamu yang Ingin Memulai Menjadi Blogger atau Writter



Hay-hay.. Kamu suka nulis? Suka ngeblog? Atau baru memulai untuk menulis?
Yuk-yuk merapat, ikut acara keren ini. Dengan nara sumber Bu Wina Bojonegoro, seorang sastrawati, juga ada Bunda Henni Prasetyorini, seorang blogger yang produktif dan sukses.
Moderatornya juga nggak kalah keren lho, Mbak Reffi Dhinar, seorang novelis dan blogger produktif yang punya semangat happy writter :) .
Dijamin seru dan banyak nambah teman, karena acara ini juga dihadiri oleh anggota komunitas menulis FAM Surabaya yang aktif dan semangat dalam berliterasi juga menginspirasi.
Apa sih FAM? FAM adalah Forum Aktif Menulis yang mempunyai moto 'Menulis Adalah Dakwah'.

Catet ya, tanggalnya.. 9 Oktober 2016 di Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, Jalan Menur Pumpungan, Surabaya.
Kontribusi peserta hanya 10k aja kok, tapi sudah dapat banyak ilmu, nambah teman.
Fasilitas lainnya yaitu ada snack dan doorprize dari games yang akan dibuat oleh FAM. (Siap-siap belajar nih, seputar dunia tulis menulis tentunya ^^ barangkali juga tentang FAM Indonesia atau FAM Surabaya, yuk-yuk kepoin di google, hehe)

Buruan daftar ke kontak person: Yudha Prima (085732221923) atau Reffi Dhinar (085607173907)

Remember it! Acaranya mulai jam setengah 10 yah guys ^^

Tiga hari lagi yah..

 Sampai jumpa di Minggu yang ceria :D

Jumat, 16 September 2016

Hay Blog!

Hay,blog.. Maafkan ya untuk akhir-akhir ini belum nulis kelanjutan kisah Rain..Karena rencananya akan dibentuk dalam bentuk novel..

Sudah punya ending kisahnya..

Semoga segera selesai :)

posted from Bloggeroid

Minggu, 17 Juli 2016

Aku Ingin Hidup Tepat Waktu



Ada pendewasaan dibalik kedisiplinan dan aku ingin memilikinya seutuhnya..

posted from Bloggeroid

Sabtu, 11 Juni 2016

Terasing Dalam Jalan Hijrah Abu-abu (2)

sumber foto :Google



Shaif

Udara dingin memeluk kulitnya yang berbalut kaos oblong. Kepalanya seperti berputar. Semalaman suntuk dia pergi di acara pesta bersama  teman-temannya. Hari ini sudah pagi buta, dia berjuang sekuat tenaga mengendarai motornya dalam keadaan setengah mabuk. Dia ingin cepat sampai di rumahnya, bukan rindu keluarganya, tapi dia ingin segera tidur. Ya, hanya ingin melepas lelah dia ingin segera tiba di rumahnya. Mungkin setelah bangun, dia ingin cepat-cepat beranjak lagi dari rumahnya yang seperti neraka itu.

"Sreet...!" Akhirnya dia tiba dirumahnya.  Dirabanya gembok pagar, terkunci! Tapi dia sudah cukup lihai, dia sudah menduplikat kunci-kunci dalam rumahnya. "Kriek.." Berhasil juga dia membuka pintu pagar sampai pintu dalam rumah. Di masukkan motor kesayangannya dalam rumah dengan hati-hati, supaya tak terdengar suaranya oleh orang rumah yang sedang tidur.

Tanpa sibuk melakukan apa-apa lagi segera direbahkan tubuhnya di atas kasur bersprei biru. "Buukk!" Suara tubuh yang dijatuhkan di kasur empuknya. Mata itu tanpa basa basi langsung terpejam, lelap. Tiba-tiba terdengar suara derap kaki menuju kamarnya. "Dasar anak nakal! Jam segini baru pulang! Darimana saja kamu!" Suara seorang lelaki tua yang tak lain adalah ayahnya, sedang memarahinya. Namun, seperti biasanya, dia acuh dan tak mendengarkan, asyik tenggelam dalam dunia mimpi di tidurnya.

"Shaif!"Ayahnya memanggil. Shaif tak merespon. Ayahnya hanya bisa menggeleng kepala dan mengelus dada, "Astaghfirullah.." Gumamnya. Raut wajah lelaki itu terlihat begitu sedih memandangi anaknya. Di elusnya rambut anak lelaki pertamanya itu sambil menghela nafas.

Shaif, seorang remaja laki-laki yang tengah limbung dalam pencarian jati dirinya. Seakan sudah tak percaya akan adanya Tuhan lagi. Ya, mungkin percaya, tetapi hanya sebatas percaya. Namun untuk benar-benar mengerti apa artinya percaya pada Tuhan, mungkin dia masih jauh. Kehidupannya yang jauh dari ketaatan. Meski, sebenarnya dia terlahir dari keluarga yang taat agama. Dia masih sakit hati akan doanya yang tak dikabulkan itu. Sakit keras ibunya yang tak kunjung sembuh dan berakhir pada kematian. Apalagi dalam waktu dekat setelah itu, kekasihnya memilih untuk menikah dengan pria lain. Seakan doa-doanya, kerja kerasnya, tangisnya, itu tidak didengar oleh Tuhan.

Jangankan bersahabat, bahkan Shaif pun membenci wanita berjilbab. Karena Winta, mantan kekasihnya itu berjilbab dan baginya dia sosok yang sholehah. Tapi mengapa masih tega berselingkuh dengan pria yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Shaif pernah berpikir untuk menjadi seorang atheis. Tapi mungkin dalam hatinya masih ada setitik kecil cahaya akan keimanan. Sehingga masih saja dia genggam status agamanya.

Dalam heningnya malam, lelaki tua itu khusyuk bersujud hingga sajadahnya basah akan air mata. Dirinya malu, sebagai seorang yang biasa berdakwah, menyeru kebaikan pada orang lain. Namun, anaknya sendiri tak taat pada agama. Entah, ini ujian atau buah dari kesalahannya, terkadang ujian dan karma memang berbeda tipis. Dicobanya mereka-reka setiap detik dalam hidup di masa lalunya yang mungkin penyebab kelakuan anaknya. Mungkin karena ini, mungkin karena itu.. Dicobanya mengira-ngira...

Allah terkadang memberi cobaan seseorang yang sedang nyaman mendekat padaNya, yang menyeru kebaikan, di uji dengan buruknya kelakuan anaknya atau salah satu anggota keluarganya. Seperti nabi Luth yang diuji dengan istrinya yang suka bergaul dengan orang-orang gay, nabi Nuh yang di uji dengan Kan'an, anaknya yang sombong di saat banjir melanda." Tapi, mereka kan nabi.. Sedangkan aku..? " Lelaki itu terisak menutupi wajah keriputnya.

Entahlah, kadang antara ujian atau karma, sulit untuk dibedakan..

#Terasing Dalam Jalan Hijrah Abu-abu  ep. 1

Kamis, 02 Juni 2016

Terasing dalam Jalan Hijrah Abu-Abu

sumber foto :Google.com


RAIN

Kau tahu rasanya jadi asing? Ya, disaat kau di antara sekumpulan orang namun kau tetap merasa sendiri. Kau bagai angin yang tak terlihat. Hey,bahkan lebih buruk dari itu! Kau seperti ada, namun ruhmu tak disana. Dalam kondisi seperti itu, bahkan menjadi angin terasa lebih baik sepertinya.

Rain, begitulah dia dipanggil. Gadis yang entah mengapa mencoba mengambil jalan hijrah yang dipikirannya membawa kedamaian sesungguhnya yang selama ini di carinya. Dia memang bukan seorang yang baru masuk dalam islam, bahkan dia sudah berjilbab. Hanya kini dia mencoba memanjangkan jilbabnya menutupi dada. Celana jeans ketatnya pun dia ganti dengan rok panjang yang anggun.

Namun hijrahnya tidaklah mulus. Pertama berhijrah dia memang merasakan dunia baru, damai rasanya. Dan hanya selang beberapa bulan dia mulai merasakan dilema yang mengusik hidupnya. Bukan apa-apa, mungkin karena selama ini jalan hijrahnya dia temukan sendiri. Karena kesenangannya membaca buku dan browsing internet. Dia telah menemukan hidayah di situ. Itu bisa jadi dikatakan cahaya, bisa juga dikatakan awal kegalauan. Rasanya, jika orang hanya mengenalnya lewat dunia maya, Rain terlihat seperti seorang akhwat muslimah yang bersih akhlaknya, dalam ilmu agamanya. Padahal, Rain hanyalah seorang yang sedang mencari jati dirinya dalam mendalami ilmu agama.

Rain mulai mencari teman yang sevisi. Nampaknya, hal itu akan membuatnya semakin kuat. Tapi kenyataan memang kadang tak seindah bayangan. Setelah menemukan teman sevisi, yang sama-sama mendalami ilmu islam, Rain merasa semakin kaku dan resah. Bagaimana tidak? Rain merasa hidupnya ada di tengah-tengah, tak berkawan. Jika di dalam pertemanan 'remaja' , dia merasa tersudut.
Dianggap ekstrimis, tak menghargai culture, alay. Hal paling berani yang dia lakukan adalah sholat, dikala sebagian kawan lainnya tak sholat. Selebihnya? Ajakan konser hura-hura, karaoke berjam-jam, nonton film bioskop ala barat, dan kesenangan lainnya ala remaja tetap dia ikuti karena satu alasan: Takut dianggap sok. Dan di antara perkumpulan teman barunya itu, dia merasa tersudut juga. Dia merasa kotor. "Ha? pernah pacaran?" "Ha? pernah karaoke?" "Ha?" "Ha?" dan sederet 'Ha' lain yang dilontarkan teman-teman akhwat yang memang kebanyakan pernah mondok itu. Rain merasa malu, merasa terkikis hatinya.. "Kenapa aku dulu pacaran,, Kenapa aku dulu mau hura-hura," Rain terisak dalam penyesalan yang bagi teman 'remaja' nya itu adalah hal biasa.

Lebih-lebih diusianya yang sudah pantas menikah itu, Rain merasa semakin sakit. Soal jodoh! Hanya karena jodoh! Bukan karena tak ada yang tertarik padanya. Namun ketakutan yang dibuat sendiri oleh Rain. Rain merasa takut salah memilih. Jika dia memilih yang 'biasa-biasa' saja. Rain takut akan kemungkinan besar kembali pada kehidupan yang sekedar hidup, kehidupan yang tak menuju ke suatu fokus mendalami islam. Namun jika dia mencari ikhwan. Dia merasa tak pantas, karena seorang ikhwan hanya pantas pada akhwat. Apakah ada ikhwan yang mau dengan dirinya yang masih belum matang dalam beragama itu? Bukankah biasanya ikhwan pasti mencari akhwat yang mumpuni akhlak dan dalam ilmu agamanya?

Rain segera tersadar, menepis lamunan-lamunan negatifnya itu. Dia segera sadar bahwa jalan menuju-Nya itu berliku, namun sejatinya indah. Hidup yang singkat tak boleh disia-siakannya. Dalam sepertiga malamnya, Rain khusyuk mengadu pada sang pencipta. Malu akan kegalauannya.

Biarlah jalan hijrahnya masih terlihat abu-abu. Biarkanlah ritme kefuturannya masih naik turun. Apapun pandangan yang lain tentang dia. Rain memang masih pesimis bahwa diakhir hidupnya dia akan khusnul khatimah. Yang dia harap hanya sederhana. dia berharap di saat terakhir hidupnya, setidaknya dia dalam keadaan tengah berjuang memperbaiki dirinya menggapai ridhoNya.


#Terasing dalam Jalan Hijrah Abu-abu ep.2

Minggu, 22 Mei 2016

Jodoh Dunia Akhirat (lirik lagu - Kang Abay Motivasinger)



Kumerayu.. Pada Allah yang tahu isi hatiku
Dimalam hening aku selalu mengadu
Tunjukan Padaku…

Kuaktifkan... radarku mencari sosok yang dinanti
Kuikhlaskan Pengharapanku dihati
Siapa Dirimu…

Dalam kesabaran kumelangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan aku jaga hingga
Allah persatukan kita….

Reff :
Jodoh Dunia Akhirat
Namamu Rahasia
Tapi kau ada dimasa depanku

Kusebut dalam doa
Kuikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke Surga, Abadi…


“Bukan Cinta yang memilihmu, Tapi Allah yang memilihmu…Untuk kucintai…”